Benarkah di dunia ini ada persahabatan antara pria dan wanita?
Jika ada, apakah itu akan bertahan selamanya? Sepanjang waktu yang berlalu?
Entah bagaimana caranya, Sara berhasil kembali dengan selamat ke sekolahnya. Melompati pagar yang sedikit menyusahkannya, karena kakinya yang sakit, namun untungnya penjaga sekolah sedang tidak berpatroli disitu. Ia langsung menyelinap ke asramanya dan masuk melalui jendela kekamar tidurnya dan mengagetkan Mizuki, teman sekamarnya yang saat itu telah tertidur pulas, dengan suara berdebam ketika ia meloncat masuk ke dalam kamar.
“Sara-san…” Mizuki bergumam sebentar, menatap Sara dan kemudian kembali tertidur.
“Huh, pasti besok dia gak bakalan ingat lagi tuh…” ucap Sara sambil menyelimuti kembali Mizuki dengan selimut yang sudah sampai kebawah tempat tidur. Ni anak, parah banget tidurnya, pikir Sara.
“Oyasumi, Mizuki-chan…”
~~~
“Sebenarnya kamu kemana semalam, Sara-san?” Mizuki bertanya dengan penuh rasa penasaran melihat Sara yang masih terbaring ditempat tidurnya.
Sara gak masuk sekolah hari ini, kaki Sara yang terkilir ternyata sudah membengkak karena terlalu banyak bergerak. Yah, maklum saja Sara harus meloncati pagar dan menghindari penjaga untuk bisa kembali ke kamarnya. Tadi pagi Ibu dokter sekolah sudah datang dan mengobatinya, Sara berbohong ketika ditanya penyebab ia terkilir. Ia hanya menjawab bahwa ia tergelincir di kamar mandi.
“Hi-mi-tsu” Sara mengedipkan matanya membuat Mizuki makin penasaran.
“Ayolah Sara-san…” Mizuki dengan masih mengenakan seragam sekolahnya dan wajah yang memelas duduk di sisi tempat tidur Sara. Penasaran banget dia! Pikir Sara geli.
“Honto wa ne…”
Knock… knock… knock…
“Ah, kelihatannya ada tamu. Buka gih!” kata Sara.
“Hai. Tapi janji cerita ya?” pinta Mizuki. Sara hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi rasa penasaran sahabatnya itu.
Sara dan Mizuki sudah bersahabat sejak mereka berada dibangku sekolah dasar. Kedua orang tua mereka juga partner bisnis. Keluarga Mizuki, Miyazaki, pemilik salah satu perusahan elektronik terkemuka di Jepang. Mizuki mungkin lebih santai dari Sara, sebab ia bukan pewaris utama bisnis keluarganya, ia punya kakak laki-laki tertua yang akan melanjutkan bisnis yang dirintis orang tuanya.
Lain halnya dengan Sara, ia harus, mau tidak mau, melanjutkan bisnis keluarganya. Sara sudah dipersiapkan sejak kecil untuk mengelola Kanzen Nakayama. Menjadi seorang Lady yang pantas dan dibanggakan keluarganya. Meskipun hal itu diterimanya dengan hati terbuka, namun ada kalanya ia merasa lelah menjadi Ojou-sama yang segala gerak-geriknya diawasi. Maka jika ada kesempatan, Sara akan mengambil peluang itu untuk menyenangkan dirinya seperti yang ia lakukan malam sebelumnya, meskipun itu yang pertama kali baginya.
“Sara nee-chan!” tiba-tiba ada seseorang memeluk Sara yang sudah terduduk diranjangnya. Lanjut Baca »